JS Awetive - шаблон joomla Joomla

Kecemasan Pada Anak (Bagian 1)

 

11 Kecemasan Pada Anak bagian 1

 

Kecemasan pada Anak : Bagian 1 I Bagian 2

Pandangannya lurus ke depan dan seringkali kosong, ia berbicara dengan polos dan sedikit ke kanak-kanakan layaknya seperti anak yang masih duduk di bangku SD, padahal sebenarnya ia sudah menginjak remaja dan duduk di bangku kelas 1 SMA di salah satu pesantren di Tangerang. Badannya selalu bergerak meski sedang duduk, sesekali ia pun menatap ke seluruh ruangan seperti sedang mengamati sesuatu. Ia hanya melihat sesekali ke arah saya ketika ditanya (ekspresi wajah seperti kaget) kemudian mengalihkan pandangan ke sisi lain. Ia terlihat berupaya mengingat sesuatu atas pertanyaan yang saya ajukan. Ia adalah salah satu klien terapi saya.

 

Ia biasanya didampingi oleh sang bunda ketika hadir di klinik, sang bunda pun kadang ikut membantu dirinya saat menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Seringkali dialog antara keduanya pun terjadi, namun seringkali berakhir dengan arahan dari sang bunda agar si anak bisa berubah, menekankan bahwa itu tidak benar, harusnya seperti ini dan itu, dsb.

 

Ada beberapa kalimat yang saya masih saya ingat dimana sesekali si bunda mempertegas dengan mengatakan kepada saya seperti, “ia sering lupa pak”, “kalau berwudhu sering sampai basah ke baju karena harus membasuh berkali-kali”, “Ia berulang kali bolak balik ke kamar mandi sehingga selalu tertinggal shalat berjamaah di sekolahnya” (seperti merasa ada najis atau buang air kecil yang tidak tuntas). Hal yang sangat diingat oleh anak itu adalah bahwa ia sering tidak sadar kalau sedang buang angin alias kentut. Seperti di luar kendali dari otot-ototnya hal itu terjadi begitu saja, bahkan ia tidak sadar kalau ternyata ia kentut dengan mengeluarkan bunyi…

 

Dalam beberapa kasus mereka yang mengalami hal seperti ini seperti tidak berdaya untuk menerima keadaan dan seringkali perdebatan batin yang kuat sering terjadi. Sehingga mengakibatkan rasa frustasi, putus asa dan timbul amarah.

 

Dalam beberapa kasus, mereka yang mengalami hal seperti ini seperti tidak berdaya untuk menerima keadaan. Perdebatan batin yang kuat sering mengakibatkan rasa frustasi, putus asa dan timbul amarah. Seringkali perdebatan yang sengit terjadi ketika mereka berbicara, si ibu mencoba memberikan nasehat dan pemahaman baru agar si anak bisa lebih tenang dan tidak harus memikirkan masalahnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, si anak merasa lebih tahu dan si ibu dipersalahkan karena tidak memahami maksud si anak. Saya dibuat terharu saat si anak menangis sambil berkata sesuatu tentang hidup setelah mati, ia meyakini bahwa dirinya memiliki misi untuk mengajak si bunda untuk kehidupan yang lebih baik setelah mati nanti.

 

Ada keinginan dari dalam diri anak agar si Ibu bisa memahami dirinya, namun seringkali berujung pada perdebatan si Ibu yang selalu menyalahkan si anak. Akhirnya, tidak pernah ada solusi di antara mereka berdua. Dari hasil pengamatan sekilas, saya hanya bisa mengingat-ingat kembali pada bagian mana hal yang hampir sama terjadi pula dengan anak saya (lihat tulisan saya sebelumnya). Saya hanya bisa menuliskan daftar permasalahan anak itu sambil mencari teknik penyembuhan untuk masing-masing daftar tersebut. Butuh berapa lama untuk bisa menghilangkan itu semua? pertemuan satu kali tentunya tidak bisa membantu anak tersebut, lalu apakah si Ibu mau belajar agar paling tidak memiliki pengetahuan sama seperti saya, agar dapat komunikasi dengan lebih baik lagi dengan si anak?

 

Segera saya tersadar untuk segera melakukan tindakan karena mereka berasal dari luar kota dan hanya punya waktu satu hari di Jakarta. Maka dari itu, saya putuskan untuk segera melakukan beberapa teknik penyembuhan sekaligus. Saya bangun keyakinan si anak, sekaligus menghilangkan permasalahannya.

 

Selang dua hari setelah mereka datang ke klinik, si Ibu memberi kabar yang cukup menyenangkan kepada saya. Si ibu menyampaikan bahwa saat ini si anak sudah bisa mengambil wudhu dengan tertib dan tidak mengulangi perbuatannya seperti waktu lalu. Wajah si anak pun terlihat lebih ceria ketika si Ibu meninggalkan si anak untuk tinggal di asrama, padahal ia sering menangis saat ditinggal pulang. Tak hanya itu, selang beberapa minggu kemudian, si Ibu juga mengabarkan kembali kepada saya bahwa si anak mendapatkan juara dalam kompetisi di sekolahnya. Alhamdulillah….

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

 

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

Read 252 times Last modified on Friday, 21 April 2017 05:03
Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lokasi Praktek

Contact us

Icon putih

021-8318690 / 83705469

0812-8685-5700

Gd. Mantika, Jl. Tebet Raya 9G

Jakarta Selatan

JoomShaper