JS Awetive - шаблон joomla Joomla

Kecemasan pada Anak (Bagian 2)

 

12 Kecemasan Pada Anak bagian 2

 

 Kecemasan pada Anak : Bagian 1 I Bagian 2

Usianya baru 12 tahun dan duduk di kelas 5 SDIT. Hobinya hampir sama dengan kebanyakan anak di usianya, yakni bermain game. Generasi “Z”, demikian para ahli mengelompokkan anak-anak yang lahir di era tahun 2000an itu. Kehidupan anak-anak tersebut cenderung berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, mereka adalah generasi yang lebih kreatif, menyukai gadget dan media sosial serta senang berlama-lama berseluncur di internet.

 

Sebagai orang tua, kesenangannya menyaksikan tayangan-tayangan di youtube tidak membuat saya terlalu khawatir, sebab sejauh ini aktivitas tersebut masih memberikan dampak positif, walau tentu saja masih harus tetap didampingi. Kemampuan berbahasa Inggris anak saya pun semakin baik, meski di sisi lain saya masih harus sering memotivasinya untuk belajar lebih tekun lagi ketimbang menyaksikan tayangan-tayangan di youtube atau bermain game.

 

Ternyata bekal pengalaman bermain game dan menyaksikan tayangan-tayangan di youtube menumbuhkan keberanian dalam dirinya. Ia jadi ingin tampil layaknya seperti tokoh-tokoh yang dilihatnya, maka terciptalah beberapa video dengan anak saya sebagai tokohnya. Senang rasanya melihat anak mau dan tampil percaya diri walau hanya sekedar bermain atau berbicara bahasa Inggris di hadapan kamera. Namun sebenarnya, di balik itu semua itu ada perjuangan untuk memahami suatu kondisi yang dialami dirinya. Sebuah kondisi yang mungkin sangat sulit untuk dipahami oleh generasi seperti saya maupun istri saya, sehingga yang terjadi adalah ketika menyaksikan apa yang kami lihat, dengar dan rasakan, maka mendidik dengan cara memarahi, menyalahkan, menghakimi menjadi jalannya.

 

Berikut ini dapat saya kisahkan mengenai apa yang pernah terjadi pada anak kedua saya, hal ini bahkan terjadi berulang-ulang dan secara sadar dilakukan oleh anak saya. Beberapa kali, saat sholat berjamaah bersama keluarga, anak saya tiba-tiba membatalkan sholat berjamaahnya lalu ia segera menuju kamar mandi, hal ini karena dirinya merasa ‘kentut’. Di lain waktu, ia juga pergi tiba-tiba ke kamar mandi, bahkan sampai bolak-balik dan berkali-kali, hal ini dikarenakan ia merasa ketika sedang sujud ‘penisnya’ serasa mengeluarkan air seni. Akibatnya, ia pun kembali membatalkan sholatnya lalu mengganti celana dalam, kemudian berwudhu dan memulai sholat lagi. Hal ini bisa ia lakukan sampai 2 atau 3 kali pengulangan, yaitu untuk bisa menghasilkan 1 kali sholat yang sempurna. Sungguh hal tersebut mengherankan, menyedihkan rasanya melihat kondisi dirinya yang seperti itu. Ada perintah yang harus ia patuhi sekaligus ia jalankan, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa hanya patuh dan menjalankannya.

 

Tak hanya di rumah, ternyata di sekolah pun hal yang sama juga terjadi, bahkan hingga guru kelas meminta anak kami dibawakan celana dalam cadangan. Kejadian ini cukup lama berulang dan berulang, hingga akhirnya bisa saya hentikan. Kebiasaannya untuk berlama-lama di kamar mandi, yaitu hanya untuk membasuh badannya berkali-kali karena merasa belum bersih juga seringkali terjadi. Tak pelak, ia pun menghabiskan banyak air hanya untuk sekali mandi. Dirinya selalu merasa belum yakin jika tidak membasuh dengan benar-benar bersih. Pernah juga terjadi ia merasa harus selalu mencuci tangannya berkali-kali karena ia merasa menyentuh sesuatu dan serasa ada najis yang menempel di tangannya. Akhirnya, diskusi yang dalam tentang berbagai najis dan cara membersihkannya kami lakukan, hingga ia pun sadar dan tidak melakukan hal tersebut lagi.

 

Segala bentuk berita, sesuatu yang ia lihat atau dengar bahkan rasa bisa membuat dirinya menjadi keringat dingin dan pucat. Pernah suatu hari karena mendengar ada kebakaran hutan di Kalimantan dan mengakibatkan beberapa orang ada yang meninggal maka langsung terhubung (terkoneksi) ke dalam dirinya bahwa kebakaran itu akan terjadi juga di Jakarta dan mengakibatkan korban jiwa termasuk dirinya. Sehingga ketika ia melihat asap maka wajahnya langsung berubah menjadi pusat pasi. Berita pesawat jatuh langsung membuat dirinya takut naik pesawat bahkan menangis dan tidak mengizinkan saya pergi jika harus naik pesawat. Dan masih banyak lagi…

 

Ada kecemasan dan ketakutan yang amat sangat pada dirinya, ada pengulangan-pengulangan perilaku yang tidak semestinya, ada ketidakpercayaan diri dan kebingungan karena dikuasai oleh pemikirannya sendiri atas pengetahuan, penglihatan dan pendengarannya. Semuanya saling terkait dan menjadi kompleks. Dalam beberapa kasus yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah, dimana ketika ia tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya, maka ia cenderung untuk menyerah dan menangis. Ia mudah panik dan cenderung terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu. Ia menjadi anak yang emosional dan tidak tahan dengan proses, inginnya selalu instant.

 

Pada awalnya kami menganggap permasalahan ini akan hilang sejalan dengan berjalannya waktu, namun makin hari pola-pola baru dari ketakutan dan kecemasannya terus timbul. Jari-jari tangannya mulai bergerak tanpa kendali ketika berbicara atau ketika ditanya akan sesuatu. Hal ini menunjukkan ketidaknyamanan, sehingga akhirnya saya mulai menerapkan beberapa strategi untuk membantunya. Saya pun melakukan pendekatan dan pendampingan yang berbeda kepadanya, saya masuk ke dalam dunianya, saya kemudian mencoba memahami pola pikirnya. Saya ikuti kegemaran, bahkan terkadang saya juga harus berubah untuk ikut menjadi seperti dirinya. Saya ubah teknik berkomunikasi saya, saya ikut bermain game atau membuat video bersamanya. Hal ini saya lakukan agar saya bisa mematahkan setiap pemikiran baru yang kurang baik, yaitu untuk meruntuhkan argumen-argumen negatif yang ada dalam dirinya. Saya lakukan dengan penuh kesabaran meski tidak mudah, saya sangat bersyukur saya kemudian mendapati terjadi beberapa kemajuan menunjukkan hasil yang positif.

 

Saya makin menyadari bahwa hidup akan dipenuhi dengan tantangan dan resiko khususnya bagi saya dan anak saya ini, oleh karenanya, sebagai orang tua kita akan selalu dituntut untuk memiliki ilmu dan strategi agar tantangan dan resiko di masa yang akan datang bisa kita kalahkan.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

 

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

Read 546 times Last modified on Friday, 21 April 2017 05:00
Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lokasi Praktek

Contact us

Icon putih

021-8318690 / 83705469

0812-8685-5700

Gd. Mantika, Jl. Tebet Raya 9G

Jakarta Selatan

JoomShaper