JS Awetive - шаблон joomla Joomla

Jadi Orang Tua Harus Gentlemen!

 

14 Jadi Orang Tua Harus Gentlemen

 

Pernah suatu kali saya menolak permintaan orang tua yang ingin menterapi anaknya. Alasannya bukan karena saya tidak ingin membantu mereka, namun sedari awal saya menemukan bahwa ada pola pikir (mindset) yang kurang tepat dari orang tua ini, yang jika saya tetap membantunya maka tidak akan menyelesaikan permasalahan si anak itu sendiri. Dampak dari permasalahan si anak ini sangat berat, namun sebenarnya bisa di selesaikan dengan hanya membangun komunikasi diantara keduanya. Akan tetapi, ternyata keduanya cenderung lebih memilih melimpahkan penyelesaian tersebut kepada pihak terapis saja.

 

Sebenarnya saya tidak semerta-merta menolak permintaan mereka, telah ada diskusi di awal yang juga merupakan bagian dari proses terapi dan konsultasi agar mereka menyadari bahwa orang tua-lah yang harus berperan terhadap permasalahan ini. Dikarenakan mereka tetap bersikeras agar saya yang berbicara kepada anak mereka, saya pun kemudian meminta mereka agar yang terlebih dahulu berbicara kepada si anak, jika sudah baru saya akan membantu mereka. Alhasil, mereka lebih memilih untuk mencari terapis lain yang mau melakukan sesuai permintaan mereka.

 

Pernah pula saya membantu seorang ayah yang mengalami permasalahan dengan putri dari istri yang baru saja ia nikahi. Ia menikah dengan seorang istri yang sudah membawa seorang anak gadis yang menginjak remaja. Si gadis saat ini sedang mengalami kisah asmara, namun dengan orang yang jauh lebih tua dari dirinya, yakni dengan gurunya sendiri. Si ayah menyadari bahwa pengalaman dalam mendidik anak yang sedang menginjak remaja sangat terbatas, ia pun menyadari posisinya sebagai ayah yang bukan ayah sebenar-benarnya dari anak istrinya tersebut.

 

Menyadari kekurangan yang dimiliki oleh si ayah, membuat saya pun tertantang untuk membantunya dalam menumbuhkan kesadaran, membangun keyakinan serta mengajarkan strategi komunikasi yang baik dengan si anak. Bahkan saya masih ingat dengan salah satu sugesti yang saya sampaikan dan sangat berkesan, bahkan hingga membuat si ayah pun mau berupaya menjadi tokoh yang bisa melindungi dan membantu setiap permasalahan si anak tersebut.

 

Sugesti saya katakan adalah “jika masalah sekecil ini membuat anda bingung, maka saya tidak bisa membayangkan jika nantinya anda harus berhadapan dengan calon menantu (pacar) dari anak anda?”. Kata pacar (calon mantu) menyadarkan si ayah bahwa permasalahan si anak yang saat itu sedang “suka” dengan gurunya bukan masalah besar dan hal yang menjurus pada kriminalisasi pendidikan terhadap anak didik dapat diselesaikan dengan berkomunikasi dengan pihak sekolah, tidak demikian dengan permasalahan ketika menghadapi kekasih anak yang akan menjadi calon suami, lalu mengapa harus di takuti? Yang harus ditakuti dan dipersiapkan adalah menghadapi masa depan si anak dengan calon suaminya nanti, dimana sebagai seorang ayah ia akan sangat dituntut untuk bisa menyeleksi, memutuskan, mengarahkan, memberi nasihat hingga membantunya ke jenjang pernikahan kelak.

 

Disitulah peran dari orang tua bukan?

Menjaga anak-anak kita dengan membangun komunikasi yang baik sehingga mereka paham dan bisa memilih jalan terbaik bagi kehidupan mereka sendiri

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

Read 241 times Last modified on Wednesday, 23 August 2017 04:56
Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lokasi Praktek

Contact us

Icon putih

021-8318690 / 83705469

0812-8685-5700

Gd. Mantika, Jl. Tebet Raya 9G

Jakarta Selatan

JoomShaper