JS Awetive - шаблон joomla Joomla

Gara-Gara Salah Ambil Jurusan Featured

 

 33 Gara Gara Saah Jurusan

 

Kisah ini saya ambil dari dua kasus yang serupa namun dialami oleh dua individu yang berbeda baik tingkatan pendidikan maupun usia. Yang satu masih duduk di bangku SMA dan yang satunya lagi sudah kuliah. Ada hal menarik yang bisa kita ambil hikmah dari kedua peristiwa ini, yaitu bahwa orang tua - khususnya saya sendiri, agar lebih berhati-hati dalam mengarahkan kemauan anak saat mengambil jurusan akademik. Hal ini dikarenakan hasilnya bisa saja berdampak fatal, bukan hanya bagi masa depan mereka, namun bisa berdampak negatif jika nantinya mereka malah menghadapi keseharian dengan perasaan tidak menyenangkan saat menjalankan studi.

 

Seringkali orang tua terjebak oleh paradigm yang tidak ingin membatasi pilihan anak sehingga membiarkan anak memilih jurusan yang di inginkannya, atau sebaliknya, orang tua terlalu menyarankan anak untuk mengambil jurusan tertentu yang sang anak tidak suka. Dimana bisa saja sang anak sebenarnya belum memahami dan mengerti akan kemana mereka setelah lulus nanti.

 

Bahkan beberapa orang tua ada yang tetap berkeinginan agar sang anak tetap di jurusan yang telah diambilnya meski telah terindikasi ada ketidaksesuaian atau ketidakcocokan saat menjalankan studi. Mereka memotivasi anak dengan cara-cara lama yang pernah mereka dapatkan waktu muda dahulu, padahal jamannya kini sudah jelas berbeda. Hasilnya, tentu sang anak akhirnya tidak menemukan solusi atas permasalahan yang sedang mereka hadapi, tambah stress dan mulai melakukan hal-hal yang tidak wajar, yaitu seperti; bolos sekolah, malas pergi ke sekolah, dan sebagainya. Bahkan ada juga orang tua yang terlambat memahami permasalahan anaknya sehingga baru menyadari manakala permasalahan tersebut sudah besar. Hal ini sungguh sangat disayangkan.

 

Katakanlah si Y, yaitu seorang pelajar yang saat ini sedang duduk di SMA, ia sudah mendapat “warning” dari pihak sekolah bila ia tidak bisa memperbaiki kebiasaan sering bolos dan telat masuk, maka ia akan mendapat sangsi berupa tidak dapat naik kelas. Alhasil, orang tua Y panik karena tidak bisa mengubah kebiasaan buruk si Y ini, yang katanya baru si Ibu rasakan sejak ia masuk SMA. Sebelumnya, anaknya adalah anak yang baik dan berprestasi saat di SMP dahulu. Kesempatan untuk memperbaiki nilai (remedial) yang di tawarkan dari pihak sekolah pun bahkan ia lewatkan begitu saja dengan tidak menyelesaikannya.

 

Sebenarnya apa yang terjadi? setelah sesi terapi, didapati bahwa tindakan Y yang sering tidak masuk ke sekolah dan sering telat tersebut adalah bentuk protes atas ketidakberdayaan dirinya untuk sekolah di jurusan yang ia pilih sendiri. Meskipun jurusan tersebut ia yang memilih namun ternyata ia merasa tidak mampu di jurusan tersebut. Hasilnya, ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri, merasa tidak berdaya, malu, marah, benci, pesimis, dan segudang hal-hal negatif yang ia rasakan. Lebih jauh lagi, si Y bahkan tidak segan-segan untuk berani berkonfrontasi dengan kedua orang tuanya.

 

Beda lagi dengan si A yang hampir berpikir bahwa bunuh diri adalah solusi terbaik bagi dirinya. Si A merasa frustasi saat menyadari bahwa dengan ia mengambil salah satu jurusan di universitas ternama adalah sebuah kesalahan, alih-alih membuatnya bahagia malah justru kini membuatnya menderita. Sejatinya ia tidak benar-benar menyukai jurusan yang ia pilih itu, diterimanya ia di jurusan tersebut adalah hasil iseng-iseng dirinya saat mengikuti tes masuk universitas tersebut. Kondisi ini diperparah dengan adanya trauma masa kecil, yaitu ia pernah dilecehkan oleh beberapa lelaki yang membuatnya makin tertekan. Ia tidak pernah menceritakan permasalahan tersebut kepada kedua orang tuanya karena ia tidak ingin membuat orang tuanya merasa susah atas apa yang ia alaminya tersebut.

 

Di sisi lain, ternyata orang tua si A juga turut memaksa meski mengetahui si A tidak suka pada jurusan tersebut. Hasilnya, seringkali ia mengaitkan ketidakberdayaannya saat belajar di kampus dengan pengalaman buruk masa lalu atau hal-hal negatif di dalam dirinya. Hal ini membuat si A menjadi gelisah, tidak pede, takut, cemas, tidak yakin dengan masa depannya, dsb,. Ditambah lagi kedua orang tuanya adalah orangtua yang super sibuk, ia merasa tidak memiliki tempat untuk berbagi.

 

Atas ijin Yang Maha Kuasa, setelah sesi terapi akhirnya kedua permasalahan tersebut akhirnya dapat diselesaikan. Orang tua Y pun menyadari kelemahan anak dan si anak juga menyadari kesalahan dirinya . Si A akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan sekolahnya di jurusan yang dipilihnya. A pun kini jadi memiliki keberanian untuk bercerita kepada kedua orang tuanya dan menyadari pentingnya untuk selalu terbuka, termasuk mendiskusikan jurusan yang orang tuanya minta tersebut.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

 

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

Read 73 times Last modified on Tuesday, 03 July 2018 07:11
Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lokasi Praktek

Contact us

Icon putih

021-8318690 / 83705469

0812-8685-5700

Gd. Mantika, Jl. Tebet Raya 9G

Jakarta Selatan

JoomShaper