JS Awetive - шаблон joomla Joomla

 

Pikiran Negative

 

Perasaan tidak bisa move on dan menjadi sering curiga terhadap suami selalu hadir dalam diri seorang ibu muda yang datang untuk mengikuti sesi hipnoterapi. Hal ini terjadi setelah ia mendapati suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Rumah tangga yang dibina selama lima belas tahun rasanya seperti sudah berakhir dan tidak ada harapan lagi. Meski suami sudah berjanji untuk tidak akan mengulangi perbuatannya kembali, namun si istri masih tetap tidak percaya dan selalu curiga. Perasaan curiga yang berlebihan ini akhirnya membuat si suami tidak tahan dan menyatakan ingin berpisah saja. Ia datang dalam sesi terapi untuk membuang rasa curiga tersebut jauh-jauh sehingga bisa move on dan merasakan kembali kebahagiaannya kembali.  

 

Dalam menyikapi suatu permasalahan, seringkali kita terjebak dalam paradigma berpikir yang ujung-ujungnya membuat kita menderita atau lebih senang mendramatisir dan merasa paling dirugikan oleh pihak lain, meski mungkin hal itu pun belum tentu benar. Alhasil paradigma tersebut tumbuh berkembang bagaikan “tumbuhan liar” yang semakin membesar, bahkan akarnya sangat kuat tertancap di dalam pikiran. Yang tumbuh hanya kekecewaan, merasa dirugikan, dikhianati, merasa tidak punya masa depan, benci, kesal, menyalahkan diri sendiri, dan segudang hal-hal negatif lainnya. Lalu kemana “tumbuhan-tumbuhan kebaikan”? sepertinya ia mati. Padahal sebelumnya ia juga tumbuh subur sebelum ada “tumbuhan liar” yang menggangu. “Tumbuhan kebaikan” itu berupa kebahagiaaan, kemesraan, kesenangan, dsb.

 

Jika si ibu muda itu memiliki keinginan untuk bisa move on dan melupakan masa lalu, maka yang ia butuhkan adalah menyadari bahwa “tumbuhan liar” yang tidak berguna tersebut perlu segera dipotong dan dibuat mati. Ia harus fokus hanya pada “tumbuhan-tumbuhan kebaikan” saja. Manakala “tumbuhan liar” tersebut hendak tumbuh lebih lebat lagi, segeralah potong dan ganti dengan tumbuhan baru yang lebih baik, atau buat mati sekalian saja tanpa diberi kesempatan untuk tumbuh. Fokuslah hanya pada membesarkan “tumbuhan kebaikan” yang tangkai-tangkainya tumbuh baru dan nikmati prosesnya hingga ia makin membesar dan mengalahkan tumbuhan liar tersebut.

 

Jika “tumbuhan kebaikan” tersebut tidak bisa tumbuh seperti yang anda harapkan, maka anda bisa melakukan evaluasi kembali mengapa ia tidak bisa tumbuh di tangan anda. Introspeksilah diri anda, apakah anda sudah memberi pupuk? menyiramnya setiap hari? memberi cahaya yang cukup? membersihkannya dari pohon-pohon pengganggu?. Dalam kaitannya dengan urusan berumah tangga, maka ilustrasi tumbuhan tersebut dapat anda lihat dan tanyakan kembali kepada diri, hal-hal apa lagi yang selama ini kurang dan perlu ditambah agar hubungan anda makin menjadi lebih baik lagi.

 

Yang terakhir, berterimaksihlah kepada diri anda dan kehidupan yang sedang anda jalani saat ini. Berterimakasihlah, karena saya percaya Tuhan Yang Maha Esa sedang mengajarkan kepada anda tentang arti kehidupan. Untuk itu, tetaplah berbaiksangka dengan kehidupan yang sedang anda jalani. Jika “tumbuhan liar” tersebut tetap mekasakan diri untuk tumbuh lalu mengatakan “lha…enak di dia dong, dia yang berbuat masa’ saya yang harus memaafkan?”. Anda bisa potong “tumbuhan liar” tersebut lalu anda ganti dengan tumbuhan baru yang mengatakan, “kebaikan yang saya buat ini yaitu memaafkan adalah ditujukan untuk kebaikan diri saya sendiri sehingga saya bisa move on dan terbebas dari prasangka buruk yang selalu hadir dalam diri saya”.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

 

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

 33 Gara Gara Saah Jurusan

 

Kisah ini saya ambil dari dua kasus yang serupa namun dialami oleh dua individu yang berbeda baik tingkatan pendidikan maupun usia. Yang satu masih duduk di bangku SMA dan yang satunya lagi sudah kuliah. Ada hal menarik yang bisa kita ambil hikmah dari kedua peristiwa ini, yaitu bahwa orang tua - khususnya saya sendiri, agar lebih berhati-hati dalam mengarahkan kemauan anak saat mengambil jurusan akademik. Hal ini dikarenakan hasilnya bisa saja berdampak fatal, bukan hanya bagi masa depan mereka, namun bisa berdampak negatif jika nantinya mereka malah menghadapi keseharian dengan perasaan tidak menyenangkan saat menjalankan studi.

 

Seringkali orang tua terjebak oleh paradigm yang tidak ingin membatasi pilihan anak sehingga membiarkan anak memilih jurusan yang di inginkannya, atau sebaliknya, orang tua terlalu menyarankan anak untuk mengambil jurusan tertentu yang sang anak tidak suka. Dimana bisa saja sang anak sebenarnya belum memahami dan mengerti akan kemana mereka setelah lulus nanti.

 

Bahkan beberapa orang tua ada yang tetap berkeinginan agar sang anak tetap di jurusan yang telah diambilnya meski telah terindikasi ada ketidaksesuaian atau ketidakcocokan saat menjalankan studi. Mereka memotivasi anak dengan cara-cara lama yang pernah mereka dapatkan waktu muda dahulu, padahal jamannya kini sudah jelas berbeda. Hasilnya, tentu sang anak akhirnya tidak menemukan solusi atas permasalahan yang sedang mereka hadapi, tambah stress dan mulai melakukan hal-hal yang tidak wajar, yaitu seperti; bolos sekolah, malas pergi ke sekolah, dan sebagainya. Bahkan ada juga orang tua yang terlambat memahami permasalahan anaknya sehingga baru menyadari manakala permasalahan tersebut sudah besar. Hal ini sungguh sangat disayangkan.

 

Katakanlah si Y, yaitu seorang pelajar yang saat ini sedang duduk di SMA, ia sudah mendapat “warning” dari pihak sekolah bila ia tidak bisa memperbaiki kebiasaan sering bolos dan telat masuk, maka ia akan mendapat sangsi berupa tidak dapat naik kelas. Alhasil, orang tua Y panik karena tidak bisa mengubah kebiasaan buruk si Y ini, yang katanya baru si Ibu rasakan sejak ia masuk SMA. Sebelumnya, anaknya adalah anak yang baik dan berprestasi saat di SMP dahulu. Kesempatan untuk memperbaiki nilai (remedial) yang di tawarkan dari pihak sekolah pun bahkan ia lewatkan begitu saja dengan tidak menyelesaikannya.

 

Sebenarnya apa yang terjadi? setelah sesi terapi, didapati bahwa tindakan Y yang sering tidak masuk ke sekolah dan sering telat tersebut adalah bentuk protes atas ketidakberdayaan dirinya untuk sekolah di jurusan yang ia pilih sendiri. Meskipun jurusan tersebut ia yang memilih namun ternyata ia merasa tidak mampu di jurusan tersebut. Hasilnya, ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri, merasa tidak berdaya, malu, marah, benci, pesimis, dan segudang hal-hal negatif yang ia rasakan. Lebih jauh lagi, si Y bahkan tidak segan-segan untuk berani berkonfrontasi dengan kedua orang tuanya.

 

Beda lagi dengan si A yang hampir berpikir bahwa bunuh diri adalah solusi terbaik bagi dirinya. Si A merasa frustasi saat menyadari bahwa dengan ia mengambil salah satu jurusan di universitas ternama adalah sebuah kesalahan, alih-alih membuatnya bahagia malah justru kini membuatnya menderita. Sejatinya ia tidak benar-benar menyukai jurusan yang ia pilih itu, diterimanya ia di jurusan tersebut adalah hasil iseng-iseng dirinya saat mengikuti tes masuk universitas tersebut. Kondisi ini diperparah dengan adanya trauma masa kecil, yaitu ia pernah dilecehkan oleh beberapa lelaki yang membuatnya makin tertekan. Ia tidak pernah menceritakan permasalahan tersebut kepada kedua orang tuanya karena ia tidak ingin membuat orang tuanya merasa susah atas apa yang ia alaminya tersebut.

 

Di sisi lain, ternyata orang tua si A juga turut memaksa meski mengetahui si A tidak suka pada jurusan tersebut. Hasilnya, seringkali ia mengaitkan ketidakberdayaannya saat belajar di kampus dengan pengalaman buruk masa lalu atau hal-hal negatif di dalam dirinya. Hal ini membuat si A menjadi gelisah, tidak pede, takut, cemas, tidak yakin dengan masa depannya, dsb,. Ditambah lagi kedua orang tuanya adalah orangtua yang super sibuk, ia merasa tidak memiliki tempat untuk berbagi.

 

Atas ijin Yang Maha Kuasa, setelah sesi terapi akhirnya kedua permasalahan tersebut akhirnya dapat diselesaikan. Orang tua Y pun menyadari kelemahan anak dan si anak juga menyadari kesalahan dirinya . Si A akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan sekolahnya di jurusan yang dipilihnya. A pun kini jadi memiliki keberanian untuk bercerita kepada kedua orang tuanya dan menyadari pentingnya untuk selalu terbuka, termasuk mendiskusikan jurusan yang orang tuanya minta tersebut.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

 

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

 couple 47192 960 720

 

Baru satu tahun berumah tangga namun pasangan ini sudah mulai berpikir untuk bercerai. Pertikaian demi pertikaian setiap hari mengisi kehidupan mereka. Bahkan pertikaian tersebut sudah mulai berujung pada pertengkaran fisik. Baik suami dan istri kedua-duanya saling mengumpat dan memukul jika sedang bertikai. Penderitaan ini membuat si istri sudah tidak tahan, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi hingga akhirnya memutuskan untuk datang melakukan sesi Hipnoterapi.

 

Ia meyakini pertikaian yang selalu melanda dikarenakan baik dirinya dan suami adalah sama-sama anak terakhir (bungsu). Ada keyakinan bahwa jika berpasangan dengan sesame anak terakhir maka kehidupan rumah tangganya tidak akan pernah akur atau cocok. Sedari awal sesi terapi dirinya hanya bercerita tentang pertikaian dan keburukan si suami, tentu hal ini perlu di klarifikasi agar informasi yang saya terima bisa seimbang. Lalu saya pun mulai melakukan pertanyaan kepada si istri tersebut, “memangnya kalau saya boleh tahu apa yang diinginkan suami kepada anda?”. Lalu ia pun menjawab, “menurut dan patuh”.

 

Bisa ditebak dari jawaban yang diberikan sepertinya menggambarkan dua buah keinginan yang berseberangan/gap antara keinginan si suami dan istri. Dimana bisa jadi si suami ingin “berkuasa” karena menuntut si istri agar “menurut dan patuh”, sedangkan si istri bisa jadi memiliki kepribadian yang tidak sesuai dengan keinginan si suami tersebut.

 

Lalu saya mulai mencari data dalam pikiran si istri tentang sosok lelaki yang ideal bagi dirinya. Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama ia spontan menjawab, “mantan pacar saya”. Dirinya pernah berpacaran selama tujuh tahun namun kandas. Ia menggambarkan bahwa mantannya itu adalah sosok yang pengertian, penurut, dan selalu mengabulkan apapun keinginannya. Bahkan tidak pernah ada kata penolakan setiap dirinya meminta sesuatu.

 

Lalu saya tanya kembali, sebelum menikah dengan suami anda, sudah berapa lama anda berpacaran?. Lalu ia menjawab, “satu tahun’. Saya percaya anda yang membaca artikel tentu bisa memahami mengapa pertikaian tersebut bisa selalu terjadi bukan?. Suami yang penuntut bertemu dengan istri yang memiliki pengalaman selama tujuh tahun selalu dimanja dan dipenuhi keinginannya.

 

Dalam sebuah sesi Hipnoterapi, fokus seorang Hipnoterapist bukan hanya mencari akar penyebab masalah, namun bisa menyelaraskan antara permasalahan klien dengan keinginannya. Bahkan tidak jarang pula mengedukasi pikiran bawah sadar klien agar memiliki kesadaran atau insight baru. Maka hasil yang diperoleh dari sesi hipnoterapi atas kasus di atas adalah :

  • Si istri menyadari dengan sepenuh hati bahwa mempertahankan rumah tangga itu sangat penting.
  • Memahami bahwa ia harus melupakan pengalaman masa lalunya dengan mantan kekasihnya tersebut.
  • Menerima dengan sadar dan ikhlas untuk bisa menerima suaminya dengan keinginannya.
  • Bahwa kesadaran yang ia miliki setelah sesi Hipnoterapi yaitu menjadi istri yang patuh dan menurut bukanlah pilihan buruk, karena sejatinya jika ingin membuat orang lain berubah maka perubahan itu harus dimulai dari dirinya sendiri.
  • Pertikaian yang terjadi tidaklah menjadi pemicu perceraian, karena masih banyak rumah tangga yang mampu bertahan dengan ujian yang lebih berat dari dirinya.

 

Bisa anda bayangkan begitu luar biasa insight yang si istri miliki setelah sesi Hipnoterapi. Awalnya ia datang dengan berbagai macam keluhan dan air mata, namun akhirnya ia pulang dengan membawa perasaan bahagia dan penuh senyuman untuk menemui suami yang ia cintai tersebut.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

 pair 707506 960 720

 

Adalah ide dari si istri agar suaminya segera menemui Hipnoterapist untuk membahas permasalahan yang sedang mereka hadapi. Kondisi rumah tangga mereka saat ini sedang dilanda perpecahan akibat ulah si suami yang tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya, yakni berselingkuh. Meskipun mereka sudah memiliki empat orang anak, namun ternyata kebiasaan buruk si suami tidak juga bisa hilang. Kebiasaan selingkuh ini ternyata telah terjadi sejak tiga tahun lalu, yaitu sejak saat usia pernikahan mereka memasuki tahun ke sembilan.

 

Ada yang unik dari keluhan si suami yang juga di akui oleh si istri, yaitu bahwa kebiasaan suaminya tersebut sebenarnya bukan datang dari dirinya sendiri, melainkan ada sesuatu yang tidak biasa dan mereka tidak tahu apakah itu. Atas dasar pemikiran itulah maka si istri beranggapan bahwa si suami masih bisa sadar dan dapat meninggalkan kebiasaannya selingkuhnya. Di sisi lain, si istri juga telah mengeluarkan ultimatum jika tidak bisa berubah juga maka ia pun telah siap untuk berpisah.

 

Hasil dari sesi hipnoterapi terungkap bahwa ada masa lalu si suami yang ia sembunyikan. Ia tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, termasuk istrinya. Ia kemudian menyatakan bahwa hanya mampu menceritakan hal tersebut kepada ibunya seorang. Masalah yang begitu sulit diceritakan itu adalah tentang masa kelam si suami yang kandas untuk menikah dengan gadis pilihannya, padahal mereka telah membina hubungan selama tiga tahun. Tanpa ada alasan yang jelas, dirinya ditinggalkan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kala itu ia begitu marah, menangis dan merasa hancur berkeping-keping, bahkan dirinya sampai tidak bisa bekerja disebabkan oleh kejadian tersebut. Hanya ibunya saja yang setia selalu menasehati agar sabar dan segera melupakan sosok orang yang begitu dicintainya tersebut. Semakin ia berusaha melupakan, semakin ia terbebani dengan rasa tidak berdaya. Ingin rasanya ia memberanikan diri bertemu kembali dengan mantan kekasihnya untuk sekedar menanyakan tentang keputusan sang mantannya waktu lalu, namun dirinya merasa seperti seorang pengecut yang tidak berdaya dan hanya bisa meratapi dirinya saja. Tangisnya pun pecah ketika ia menceritakan semua ini.

 

Ingatan tersebut benar-benar sangat membekas, tidak bisa hilang meski telah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Tanpa ia sadari, ia kemudian mulai melampiaskan kekecewaan yang ada dalam dirinya dengan menjalin hubungan dengan banyak wanita, yaitu untuk sekedar diakui sebagai sosok lelaki yang berdaya, mampu, berani bahkan bisa menanungi wanita-wanita itu. Dirinya merasa bangga dan puas jika wanita-wanita yang ia bantu kemudian mengucapkan terima kasih atau memujinya. Meski pada kenyataannya, dirinya adalah seseorang yang tidak berani dan berdaya untuk melakukan hal tersebut kepada mantan kekasihnya dulu.

 

Ada wajah linglung terlihat dari raut wajahnya, terutama ketika menyadari bahwa yang ia lakukan selama ini adalah akibat dari beban psikologis masa lalu yang belum bisa ia selesaikan. Sosok orang yang pernah ia cintai sebelumnya ternyata telah menyisakan beban psikologis yang amat berat baginya. Hal itu mengakibatkan ketidakmampuan dirinya untuk sekedar mengambil keputusan, sampai-sampai ia tak mampu mendatangi sang gadis pujaan hatinya itu untuk bertanya dan mendapatkan jawaban atas keputusan sepihak yang telah dilakukan sang gadis atas hubungan mereka.

 

Namun hari ini semuanya pun telah tuntas, yaitu karena akhirnya ia bisa memaknai kejadian hidup di masa lalunya dengan lebih baik serta mengambil langkah positif untuk dapat lebih bersikap dewasa. Ia pun kini mampu berbesar hati atas kehidupannya yang terdahulu.

 

Pada akhir sesi, setelah memberi saya pelukan erat tanda terima kasih, ia pun pamit untuk segera pulang menemui istri dan anak-anaknya di rumah. Padahal pada saat itu uraian air mata yang sebelumnya ia teteskan masih terlihat jelas membekas di pipinya.

 

Sebagai hypnotherapist, saya merasa bersyukur bisa membantu melepaskan beban masa lalunya. Saya turut bergembira melihatnya mampu menemukan kembali tujuan hidupnya bersama keluarga tercinta.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

 BW Married

 

Tuntutan ekonomi tidak jarang menimbulkan masalah dalam keluarga. Bahkan ada yang berujung hingga ke pengadilan dan akhirnya penjara. Kehidupan keluarga yang serba kekurangan menjadikan seorang gadis, katakanlah si “A”, akhirnya menjadi korban dari orang tuanya sendiri yang rela menggadaikan anaknya untuk dinikahkan atas imbalan tertentu.

 

Meskipun pada saat itu A masih duduk di bangku SMP, ia terpaksa harus menikah dengan suami tidak ia cintai, yaitu yang telah mengikat perjanjian dengan orangtuanya. Walau ada ketentuan bahwa sang suami hanya boleh menggauli A jika sudah lulus SMA, namun perjalanan takdir ternyata berkata lain, A hamil hingga harus berhenti bersekolah. Sang suami, yang sebenarnya telah memiliki istri sebelumnya, melangar janji dengan cara menjebak A hingga ia tidak bisa menolak keinginannya suaminya tersebut. Bahkan akibat dari kejadian tersebut dirinya menjadi trauma dan A merasa masa depannya sudah hilang. Selama menjadi istri dirinya selalu dihina karena dianggap tidak bisa melayani suami dalam hal hubungan suami istri.

 

Penderitaan demi penderitaan dialami oleh si A, bahkan ia di cap sebagai perebut suami orang. Bukan hanya itu, ternyata sang suami juga senang menjalin hubungan dengan wanita lain, bahkan tidak segan untuk menghamili pembantu rumah tangga mereka sendiri. A merasa malu dengan apa yang telah dilakukan oleh sang suami dan ingin segera berpisah, namun apa daya dirinya terus diancam jika ingin bercerai. A begitu memikirkan nasib kedua orangtua dan anak-anaknya apabila kelak sang suami tidak lagi memberi  nafkah kepada mereka.

 

Seiring bergulirnya waktu, pada suatu saat ada seseorang yang mengetahui penderitaan si A dan mau membantu A untuk lepas dari suaminya. Dirinya berhasil lepas dari jeratan tersebut dan menjadi seorang janda, namun penderitaan yang dialaminya sepertinya belum selesai. Anak dari hubungan mereka yang saat ini di asuh oleh sang mantan suami, di luar dugaan ternyata terjerumus ke “lembah hitam”. Hal ini dikarenakan kondisi ekonomi sang mantan suami yang kian terpuruk, A pun merasa tidak berdaya karena pada satu sisi ia merasa takut terhadap mantan suaminya, sedangkan pada sisi lain dirinya juga merasa tidak berdaya untuk menghidupi ketiga anak-anaknya.

 

Ia datang untuk melakukan sesi hipnoterapi agar dirinya bisa bangkit dan melupakan masa lalu. Ia ingin segera bisa terbebas dari jeratan ketakutan dan ketidakberdayaan yang selama ini ia hadapi. Dirinya ingin bangkit dan membuktikan bahwa saat ini ia mampu untuk memiliki kehidupan baru demi membantu anak-anaknya. Ia bertekad untuk berumahtangga terlebih dahulu agar permasalahan ini bisa dihadapi bersama keluarga barunya. Ia butuh seseorang yang mampu mendukung dan memahami kondisinya. Namun, sudah beberapa kali ia menjalin hubungan dengan beberapa lelaki yang kemudian ingin menikahinya, namun karena satu dan lain hal hubungan tersebut selalu kandas. A pun ingin mengetahui  penyebabnya serta ingin pula memperbaikinya. Dengan harapan, setelah sesi hipnoterapi nanti dirinya bisa menjadi sosok baru yang kuat, berani dan mampu menopang kehidupan keluarganya.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

 BW street art 1435078 1280

 

Hantu bagi sebagian orang adalah mahluk yang menakutkan. Bahkan hantu digambarkan sebagai sosok yang mengerikan. Entah bagaimana dengan Anda? Bagaimana hantu menurut persepsi Anda? Bagaimana hantu dalam persepsi anak-anak?

 

Anak saya yang berusia 9 tahun baru-baru ini merasa tidak nyaman dan selalu terbayang-bayang dengan sosok hantu yang ia lihat pada saat ia bermain games. Pada saat ia dan temannya sedang bermain games, tiba-tiba muncul sosok yang membuatnya sangat terkejut. Sosok tersebut berwarna-warni dan selalu terngiang-ngiang di imajinasinya. Ia pun kemudian menamakan sosok tersebut dengan istilah hantu.

 

Anak saya menceritakan kisahnya itu sesaat saya pulang dari bekerja, nampak dari wajahnya ia kelihatan takut sekali. Setelah mendengar dan mengetahui permasalahannya, maka saya menanyakan apakah ia ingin menghilangkan sosok tersebut dari pikirannya, ia pun menjawab mau. Untuk itu saya memintanya duduk di pangkuan saya sebelum memulai sesi terapi.

 

Sambil ia duduk di pangkuan, saya memintanya untuk memejamkan mata dan mengatur nafasnya dengan baik untuk rileks. Pada saat ia telah rileks, saya kemudian menanyakan dimana letak hantu tersebut. Anak saya pun memegang matanya dengan menggunakan jari-jarinya sambil berkata, “disini Yah….dekat mata”. Kemudian saya bertanya, “warnanya apa?”, lalu ia menjawab “warna-warni”. “Hmmhh…hantu zaman sekarang keren juga ya”, gumam saya dalam hati. Lalu saya minta ia mengganti warna-warni hantu tersebut dengan satu warna yang polos saja. Anak saya pun memilih warna hitam. Kemudian saya minta ia untuk membayangkan sosok yang berwarna hitam tersebut perlahan-lahan menjauh dari matanya. Sambil membayangkan sosok tersebut menjauh, saya kemudian meminta ia untuk meniupnya dengan sangat keras hingga sosok tersebut hilang.

 

Saya meminta anak saya untuk melakukan hal tersebut beberapa kali hingga ia merasa benar-benar nyaman. Kemudian saya menanyakan kepadanya apakah hantu itu sudah hilang, anak saya pun menjelaskan bahwa hantu itu masih ada walau posisinya sudah di ujung sana dan jauh ujarnya. Pada saat ia mengatakan hal tersebut, saya masih bisa melihat raut wajahnya yang kurang nyaman dan sedikit gelisah.

 

Tiba-tiba saya pun teringat bahwa anak saya sangat suka sekali dengan film yang tokoh utamanya adalah Mr. Bean. Kami pernah nonton bersama film layar lebar Mr. Bean yang berjudul “Holiday” hingga kami tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi Mr. Bean yang lucu. Saya pun kemudian mengkalibrasi sosok Mr. Bean dan meminta anak saya untuk mencontohkan aksi/gaya Mr. bean yang ia paling sukai. Tiba-tiba sambil tersenyum, kedua tangannya memegang pipi secara bersilang sambil menjulurkan lidahnya. “Bagus” kata saya, “selanjutnya sekarang kamu tiup sosok hitam tadi hingga ke titik yang kamu lihat tadi dan ketika sampai di titik tersebut maka sosok tersebut saat ini berubah menjadi Mr. Bean”. Ia pun langsung melakukan apa yang saya instruksikan, yakni dengan meniupnya dan mengubah gambar sosok tersebut menjadi Mr. Bean yang membuatnya secara otomatis menyilangkan kedua tangannya di pipi sambil menjulurkan lidahnya. Saya dapat melihat raut wajahnya kini tersenyum lebar dan tidak lagi sedang melihat sosok yang menakutkan lagi. Saya pun minta ia melakukannya berkali-kali sambil saya tersenyum-senyum sendiri melihat aksinya tersebut.

 

“Mulai saat ini dan seterusnya sosok tersebut Mr. Bean yaa….”, pesan saya. “Iya”, jawabnya sambil tersenyum. Menarik bukan? bagaimana rasanya jika Anda bisa hidup dengan lebih nyaman lagi dan melupakan atau menghilangkan hal-hal yang kurang nyaman yang pernah hadir dalam hidup Anda? 

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

BW boy 1296150 1280

 

Pagi ini, ketika bangun tidur anak saya yang laki-laki dengan wajah agak meringis dan sedikit bingung langsung menghampiri saya dan mengatakan, “Yah, aku mimpi ciuman semalam”. Lalu dia berkata, “tolong di hilangkan donk Yah….” (mentang-mentang ayahnya therapist :D ). Mendengar jawaban tersebut saya langsung tersenyum dan bertanya, “ciumannya dengan siapa?”. Lalu dia menjawab sambil tersenyum, “ada dech….”. Sambil terus penasaran saya melanjutkan bertanya, “dengan perempuan khan?”. Lalu dia menjawab, “Iya dengan perempuan, tolong hilangin donk Yah…”. Lalu saya bertanya, “mengapa harus di hilangkan?”, anak saya yang masih duduk di kelas empat itu pun kemudian menjawab sambil merasa ada sesuatu yang tidak nyaman, “abis jorok Yah…”. “Ok, sekarang mandi dan sholat Subuh dulu yaa…nanti di mobil sambil menuju ke sekolah Ayah bantu hilangkan”.

 

Sesuai janji saya, di dalam kendaraan dan sambil menikmati musik saya pun bertanya kembali tentang mimpinya. Anak saya sambil malu-malu kemudian mengatakan tidak ingin menceritakan, akan tetapi ingin sekali untuk segera menghilangkannya. Sepertinya mimpi tersebut benar-benar mengganggunya, maka saya langsung meminta ia untuk rileks dan memejamkan mata. Sambil ia memejamkan mata saya minta ia untuk menghadirkan kembali mimpi tersebut dalam pikirannya. Sesaat setelah ia mampu menghadirkan mimpinya, kemudian saya langsung minta ia untuk mengubah warna yang ada dalam mimpinya tersebut dengan warna hitam atau putih.  Dengan cara seperti itu saya berharap intensitas gambar yang ada dalam pikirannya berkurang. Warna hitam atau putih mengindikasikan sesuatu yang kurang nyaman jika disajikan dalam imajinasi ketimbang berwarna.

 

Sambil terus memejamkan mata lalu ia mengatakan, “sekarang warnanya sudah hitam Yah…”. “Baik, sekarang kamu ambil penghapus dan warna hitam tersebut kamu hapus hingga bersih yaa…” ujar saya, “sudah Yah….sekarang jadi putih” jawabnya. “Baik, sekarang kamu tarik nafas, setelah itu keluarkan nafas sambil kamu rasakan pula perasaan jorok itu hilang”.  Lalu saya sugestikan, “mulai saat ini dan seterusnya mimpi tersebut biasa-biasa saja ya…”. Sebelum ia membuka mata saya minta ia untuk berdoa agar dimudahkan serta dipahamkan pada saat belajar di sekolah nanti. Selanjutnya saya minta ia untuk membuka mata.

 

Sesaat setelah ia membuka mata dan kalimat yang keluar adalah seperti ini, “Yah…Yah…,kemarin waktu aku pulang sekolah ada polisi banyak banget di jalan, kayaknya ada razia dech…(terus berbicara membahas kejadian kemarin)”. Alhamdulillah….mimpi tersebut sepertinya sudah tidak ingin ia pikirkan kembali dan  lebih memilih topik yang lain

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

divorce 156444 640

Seringkali orangtua memiliki permasalahan dengan anak yang diakibatkan oleh egoisme pribadi diantaranya:

 

  • Orangtua mampu mengeluarkan biaya untuk pergi ke luar negeri atau membeli barang mewah untuk kesenangan pribadi namun tidak menjadikan kualitas pendidikan dan pengasuhan anaknya sebagai sebuah prioritas.

 

  • Orangtua berkeinginan agar sang anak berkembang sesuai dengan standar yang baik dan memiliki masa depan yang cerah di kemudian hari, namun pada kenyataannya mereka sendiri tidak pernah berusaha untuk membangun komunikasi dan memberikan pengawasan yang cukup kepada anaknya. Apabila sang anak membuat masalah bagi keluarga, orangtua cenderung menyalahkan hal-hal atau pihak lain dibandingkan fokus melakukan evaluasi terhadap pengasuhan yang mereka berikan.

 

  • Senang menceritakan dan memuji kehebatan anak orang lain, namun lupa bahwa salah satu faktor yang membuat anak yang ia puji itu menjadi hebat juga terletak pada peran orangtuanya, yaitu yang juga hebat dalam mendidik dan mengiringi tumbuh kembang sang anak.

 

  • Orangtua melihat sesuatu hanya dari kacamata jamannya saja dengan mengatakan, “waktu saya dulu kecil tidak seperti ini…”, padahal sekarang adalah eranya “kids jaman now” yang jelas-jelas sangat berbeda dengan masa kecil yang sang orangtua rasakan dahulu. Ini adalah era dimana anak butuh orangtua hebat yang mampu menjadi pendengar sekaligus teman baik atas permasalahan yang dihadapi oleh mereka.

 

  • Berusaha meyakinkan keinginan dengan memaksakan, padahal lupa bahwa dahulu ketika anak masih kecil selalu diajarkan untuk berani dan tidak takut. Bukankah yang namanya berani itu mampu menyampaikan pendapat dan berlogika?. Atau jangan-jangan orang tua yang sebenarnya tidak berani?

 

  • Bertanya kepada anak jika hanya ada maunya saja. Bahkan melabelisasi anak susah jika diajak berbicara, apalagi kalau di tanya, “tadi di sekolah belajar apa?”, “tadi kamu main sama siapa?”, “apakah kamu tadi senang di ajarkan oleh bu X di sekolah?”. Padahal kemampuan anak sangat bergantung terhadap lingkungannya.

 

Semoga apa yang disampaikan pada tulisan saya kali ini dapat menjadi sebuah reminder bagi semua orang tua yang menginginkan yang terbaik bagi anaknya, termasuk saya. Amin… 

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

 

ibu bekerja

 

 

Sering dipanggil ke sekolah karena anaknya yang masih kelas 4 SD selalu membuat masalah di sekolah, menjadikan seorang ibu muda kemudian datang dan memutuskan untuk melakukan sesi konsultasi bersama saya. Awalnya ia bercerita tentang kelakuan anaknya yang sering mengganggu teman-temannya, akan tetapi seiring cerita bergulir, kisahnya pun berkembang menjadi tentang pola asuh yang diberikan kepada si anak. Sang Ibu mengutarakan bahwa selama ini anaknya diasuh oleh sang ibu mertua, hal ini disebabkan oleh keseharian ia dan suami yang bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Sang ibu memutuskan untuk turut bekerja karena ia merasa kurang jika hanya mengandalkan pemasukan suami, apalagi ia baru saja melahirkan anaknya yang kedua. Oleh karena itu, kini kedua anaknya diasuh pula oleh sang mertua.

 

Sesi konsultasi yang semula bertujuan untuk membahas problema sang anak yang sedang bermasalah, akhirnya berubah menjadi sesi konsultasi berupa curahan hati sang ibu tentang ibu mertuanya. Dari hal-hal yang disampaikan, ternyata sang ibu selama ini merasa keberatan dengan pola asuh yang diberikan ibu mertua kepada anaknya saat ia tidak ada di rumah. Menurutnya, pola asuh yang diberikan tersebut malah menyebabkan perilaku anaknya malah menjadi kurang baik di sekolah.

 

Saya seperti menerima sinyal yang sangat kuat atas energi negatif yang di pancarkan oleh sang ibu. Sinyal ketidakharmonisan dan kekecewaan yang sangat kuat terasa menyebar ke segala penjuru, seperti sedang memberitahukan kepada saya bahwa energi ini sangatlah tidak baik. Energi yang bisa merusak bukan hanya dapat berdampak pada diri sang ibu namun dapat berdampak buruk pula bagi sang anak. Maka dari itu, tidak mengherankan jika energi inilah yang membuat si anak kemudian berperilaku tidak menyenangkan bahkan membuat sang ibu menjadi stress.

 

Dengan memejamkan mata dan dalam kondisi rileks yang paling dalam, saya meminta sang ibu untuk membayangkan anaknya menjadi sosok yang ia harapkan, yaitu berubah menjadi lebih baik serta tidak mengganggu teman-temannya lagi. Raut wajah sang ibu itu pun berubah, ada senyum dan senang berkembang di sana. Lalu saya mengatakan, “artinya, anak yang berubah menjadi seperti yang anda harapkan adalah karena didikan orang tua yang setia mendampingi anaknya setiap hari di rumah, orang tua yang tidak bekerja”. Seketika raut muka sang ibu berubah drastis, yaitu seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Saya bertanya, “apakah ibu ingin menjaga anak di rumah?”, lalu ia pun menggelengkan kepala menandakan tidak. Selanjutnya saya sugestikan bahwa dengan bantuan orang dari mertualah, maka ia dan suami dapat bekerja dengan nyaman, sebab anak-anaknya diasuh oleh orang yang dapat dipercaya sepenuhnya dan bisa diandalkan. “Semakin ibu bisa mempercayai mertua, maka semakin baik anak-anak di sekolah”, ujar saya kemudian.

 

Saya tambahkan pula gambaran mengenai beberapa kasus kriminalisme yang menimpa anak, yang salah satunya dikarenakan oleh pola asuh dari orang yang tidak bisa dipercaya. Untuk itu, yang harus di lakukan oleh sang ibu kini adalah membangun komunikasi yang baik dengan ibu mertua, yaitu mengenai pola asuh yang tepat sesuai kebutuhan anak. Akhirnya, sang Ibu bisa mulai tersenyum kembali, seperti ada ide baru yang memancar dari wajahnya. Energi negatif itu seperti telah tergantikan dengan ide dan solusi yang nantinya akan ia lakukan bersama ibu mertuanya. Saya turut bergembira karena kini energi negatif yang sebelumnya terlihat, kini berubah menjadi solusi yang akhirnya membantu sang ibu keluar dari masalahnya.

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

 

BW ghost 2935132 640

 

Kebiasaan X untuk tidak makan nasi sejak masih kecil menjadi salah satu penyebab dirinya menjadi seorang pencemas. Itulah permasalahan yang tengah dihadapi oleh X saat datang kepada saya untuk melakukan sesi hipnoterapi. Meskipun awalnya X bukan seorang pencemas, namun karena sering ditakuti-takuti, maka dirinya pun mulai terus-terusan berpikir bahwa suatu saat nanti pasti sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya karena kebiasaan tidak makan nasi yang ia miliki tersebut.

 

Cerita X pun bergulir, ia mengatakan kepada saya bahwa kebiasaan tidak makan nasi ini ternyata berlangsung hingga X menjadi seorang dewasa muda yang sedang menjalani kuliah. Serta merta hal tersebut menyebabkan banyak perkataan mengenai dampak tidak makan nasi bermunculan dari lingkungan keluarga, sekolah bahkan teman-temannya sendiri. Semua perkataan mereka menjadi sesuatu yang lekat sekali dalam ingatannya. Meskipun demikian, di dalam dirinya, ia sebenarnya memiliki keyakinan sendiri bahwa dengan tidak makan nasi maka pada dasarnya ia akan baik-baik saja.

 

Fase kehidupan pun kemudian berlanjut, sampailah X pada perannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Sebelum menikah, X memang pernah bekerja menjadi salah satu staff keuangan di salah satu perusahaan, namun setelah menikah dan dikarunia seorang anak, dirinya pun memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi untuk total mengasuh buah hatinya di rumah.  X mengatakan kesibukannya kala masih bekerja pernah benar-benar menyita waktunya sehari-hari hingga seringkali membuatnya telat makan. Tak pelak, lambat laun dirinya pun menyadari bahwa ia terkena penyakit maag, dimana rasa sakit di perut itu sering membuat dirinya pusing dan akhirnya terkena vertigo yang luar biasa.

 

Ternyata sakit maag yang di rasakan selama ini bukan sekedar sakit maag biasa, usut punya usut ia pun menyadari bahwa penyakit tersebut juga ditimbulkan oleh beban pikirannya sendiri. Hal itu dipicu oleh pemikirannya tentang masa depan yang cenderung berlebihan, yang malah mengundang pikiran-pikiran tidak menyenangkan untuk datang ke pikirannya sendiri. Di tambah lagi dirinya yang sudah tidak bekerja lagi itu cenderung lebih banyak ditemani buah hatinya saja.

 

Penyakit vertigo yang ia derita berkembang kepada titik yang mengkhawatirkan, saat vertigo X kambuh ia pun menggambarkannya seperti sedang melayang pada saat ia berjalan. Hal inilah yang juga menyebabkan dirinya merasa tidak kuat jika harus berdiri terlalu lama. Parahnya lagi, saat ia harus mengerjakan ibadah sholat, terutama ketika ia mulai masuk ke dalam kondisi khusyu’, pikiran negatif malah menyerangnya dan membuat dirinya takut hingga tidak sanggup lagi untuk meneruskan sholat.

 

Mendekati akhir sesi, X pun merasa bahwa penyakitnya saat ini adalah akibat sering ditakut-takuti. Hal itulah yang menjadikan dirinya lemah dan merasa tidak memiliki pertahanan untuk melawan. Saat menceritakan permasalah-permasalahan X kepada saya saat itu, ia seperti tidak memiliki kekuatan untuk bangun dari permasalahan yang ia derita. Bahkan, ketika ditanya tentang seberapa yakin permasalahan ini bisa di sembuhkan, dirinya cenderung ragu untuk ia bisa sembuh dari kecemasannya. Selang beberapa waktu saat menjalani sesi Hipnoterapi, akhirnya titik terang pun mulai terlihat , yaitu saat ia kemudian mampu menyadari bahwa banyak keyakinan pada pemograman bawah sadarnya yang salah, saat itulah X mulai mampu memahami apa yang di deritanya selama ini. Ia pun berhasil menemukan keyakinan baru bahwa saat itu dan seterusnya dirinya menjadi yakin 1000% bukan 100% lagi untuk bisa sembuh. Bravo.  

 

(Ditulis oleh Adam Hidayat)

Tertarik melakukan hipnoterapi ?

Silahkan lakukan pendafaran online di sini, tim kami akan segera menghubungi anda.

Page 1 of 5

Lokasi Praktek

Contact us

Icon putih

021-8318690 / 83705469

0812-8685-5700

Gd. Mantika, Jl. Tebet Raya 9G

Jakarta Selatan

JoomShaper